Gula Batu Lebih Baik dari Gula Pasir bagi Diabetesi, Benarkah?
Close
Diabetes 20/04/2020

Gula Batu Lebih Baik dari Gula Pasir bagi Diabetesi, Benarkah?

Gula Batu Lebih Baik dari Gula Pasir bagi Diabetesi, Benarkah?

Penulis : dr. Atika

Keywords : gula batu atau pasir, gula untuk diabetes

Antara gula batu atau gula pasir, mana yang lebih baik untuk penderita diabetes? Artikel ini akan membantu Anda memilih gula untuk diabetes.

Gula merupakan salah satu sumber utama energi bagi tubuh. Namun agar tetap terkendali,  penting bagi penyandang diabetes untuk memerhatikan konsumsi gula. Tak jarang diabetesi merasa cemas saat akan memilih gula untuk diabetes.

Pertanyaan yang sering muncul antara lain mengenai pemanis yang baik untuk dikonsumsi sehari-hari oleh diabetesi, apakah gula batu atau gula pasir?

Mengenal Kandungan Gula Batu atau Gula Pasir 

Ada dua jenis gula yang umum digunakan di rumah tangga, gula batu dan pasir. Gula batu bentuknya menyerupai batu atau blok dan sering digunakan sebagai campuran minuman seperti teh. Sedangkan, gula pasir adalah jenis pemanis yang banyak digunakan untuk membuat minuman, memasak, atau membuat kue.
Gula batu pada dasarnya terbuat dari larutan gula cair jenuh yang mengalami proses kristalisasi. Proses inilah yang menghasilkan gula yang berkonsistensi keras seperti batu. Maka bila ditelaah, gula batu atau gula cair sesungguhnya berasal dari bahan baku yang sama. 
Dalam 100 gram gula pasir, mengandung zat hidrat arang (karbohidrat) sebanyak 99,98 gram. Lalu, di dalam 100 gram gula batu, terkandung zat hidrat arang sebanyak 99,70 gram. Karena sumbernya berasal dari komponen yang sama, maka tak heran kalau kandungan gula batu atau gula pasir tidak berbeda jauh. 

Diabetesi Harus Membatasi Asupan Gula Pasir atau Gula Batu 

Diabetesi harus kenali jenis gula yang akan dikonsumsi. ‘Gula’ itu sendiri sesungguhnya adalah salah satu jenis karbohidrat. Terdapat dua jenis karbohidrat, yaitu karbohidrat kompleks dan karbohidrat simpleks.
Gula batu atau gula pasir tergolong sebagai karbohidrat simpleks, atau nama lainnya adalah karbohidrat sederhana. Artinya, gula batu atau gula pasir mudah dicerna dan diserap, sehingga dapat membuat lonjakan kadar gula darah pasca mengonsumsinya.
Ketika kadar gula darah meningkat terlalu tinggi di atas normal, hal ini akan mempercepat timbulnya komplikasi pada penderita diabetes. Komplikasi tersebut antara lain penyakit jantung koroner, stroke, dan penyakit pembuluh darah tepi.
Lalu, karbohidrat kompleks adalah jenis yang lebih susah dicerna karena mengandung serat. Makanan yang tergolong karbohidrat kompleks misalnya terkandung pada gandum dan buah-buahan. 
Sebagai contoh, mari membahas buah apel. Buah apel juga memberikan sensasi manis di lidah. Namun, gula darah tidak akan langsung naik tinggi setelah Anda memakan buah apel. Pasalnya, tubuh butuh waktu lama untuk mencerna buah apel karena adanya kandungan serat pada buah berwarna merah ini. 
Maka, jika ingin membandingkan mana yang lebih baik antara gula batu atau gula pasir untuk konsumsi, keduanya memiliki kedudukan setara, atau bisa dibilang tidak ada yang lebih baik untuk diabetesi. Oleh sebab itu, penderita diabetes memang seharusnya lebih fokus terhadap jumlah konsumsi gula, dibandingkan jenisnya. 
Mengenai jumlah, berdasarkan konsensus Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), sukrosa (contohnya gula batu atau gula pasir) tidak boleh lebih dari 5% dari kebutuhan kalori penderita diabetes.
Berdasarkan rekomendasi American Heart Association, asupan gula pasir seorang pria sehat tidak boleh lebih dari 9 sendok teh (36 gram atau 150 kalori) per hari. Sedangkan pada wanita sehat, sebaiknya kurang dari 6 sendok teh (25 gram atau 100 kalori) per hari.
Sebagai perbandingan, 1 kaleng minuman bersoda dapat mengandung hingga 8 sendok teh (32 gram) gula tambahan. 

Jadi, Jenis Gula Apa yang Baik untuk Diabetesi? 

Berdasarkan penjelasan di atas, pemanis atau gula yang baik untuk diabetesi adalah yang mengandung karbohidrat kompleks. Diabetesi juga dapat memilih pemanis alternatif seperti madu, sirop maple, gula kelapa, sirop jagung, maupun dekstrosa, demi menghindari gula pasir atau batu. 
Sayangnya, meski banyak alternatif, semuanya sama-sama jenis gula yang dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah. Apa pun jenis gulanya, ketika dikonsumsi terlalu banyak, tetap akan membahayakan kesehatan.
Untuk mendapatkan pemanis yang aman bagi kadar gula darah, Anda bisa mengonsumsi pemanis sukralosa yang tidak mengandung kalori, sehingga baik untuk kadar gula darah.
Menurut penjelasan Food and Drugs Administration pada tahun 1998, sukralosa disetujui dan dianggap aman dikonsumsi oleh diabetesi. Bahkan, pemanis ini ditemukan 600 kali lebih manis dari gula biasa dan bisa dicampurkan ke berbagai jenis makanan serta minuman lainnya.
Demikianlah pembahasan seputar gula batu atau gula pasir untuk penderita diabetes. Jika mau tahu lebih lanjut tentang asupan diabetes yang sehat, jangan ragu konsultasi dengan dokter Anda.

Meta desc: Diabetesi harus pandai dalam memilih jenis gula yang baik  untuk 
dikonsumsi sehari-hari. Antara gula pasir dan gula batu, mana yang lebih baik untuk orang diabetes?

Meta title: Gula Jenis Apa yang Lebih Sehat untuk Diabetes?

Tag: gula diabetesi, gula untuk diabetes

Sumber : 
https://www.fda.gov/food/food-additives-petitions/additional-information-about-high-intensity-sweeteners-permitted-use-food-united-states


Reach us now

Reach us now

Temukan solusi bersama ahli.