Karbohidrat sering kali dinilai hanya dari seberapa cepat dapat meningkatkan kadar gula darah. Padahal, setelah makanan masuk ke saluran cerna, tubuh juga melepaskan berbagai hormon yang berperan penting dalam mengatur metabolisme. Salah satunya adalah glucagon-like peptide-1 (GLP-1).
GLP-1 adalah hormon yang membantu tubuh mengatur pelepasan insulin, mengendalikan hormon glukagon, serta memberikan sinyal kenyang setelah makan.
Menariknya, jenis karbohidrat yang dikonsumsi ternyata dapat memengaruhi seberapa banyak hormon ini dilepaskan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa isomaltulosa, salah satu jenis karbohidrat yang dicerna lebih lambat dibandingkan sukrosa (gula pasir), mampu meningkatkan pelepasan GLP-1 setelah makan.
GLP-1 diproduksi oleh sel-sel khusus di usus sebagai respons terhadap makanan yang masuk ke saluran cerna. Hormon ini membantu pankreas melepaskan insulin ketika kadar gula darah meningkat sekaligus menekan pelepasan glukagon, yaitu hormon yang dapat meningkatkan kadar gula darah.
Selain itu, GLP-1 juga memperlambat pengosongan lambung sehingga makanan dicerna secara lebih bertahap. Proses ini turut membantu memberikan rasa kenyang lebih lama dan mendukung pengaturan kadar gula darah setelah makan. Karena perannya yang penting, GLP-1 kini menjadi salah satu target terapi pada diabetes melitus tipe 2 dan obesitas.
Baik isomaltulosa maupun sukrosa sama-sama tersusun dari glukosa dan fruktosa. Perbedaannya terletak pada jenis ikatan yang menghubungkan kedua molekul tersebut.
Ikatan pada sukrosa lebih mudah dipecah oleh enzim pencernaan sehingga gula cepat diserap tubuh. Sebaliknya, isomaltulosa memiliki ikatan yang lebih sulit dipecah sehingga proses pencernaan berlangsung lebih lambat. Akibatnya, penyerapan glukosa terjadi secara lebih bertahap.
Proses pencernaan yang lebih lambat ini diduga memungkinkan nutrisi mencapai bagian usus halus yang lebih distal, tempat banyak sel penghasil GLP-1 berada. Kondisi inilah yang diduga berkontribusi terhadap peningkatan pelepasan hormon tersebut.
Penelitian melibatkan 30 orang dewasa yang terdiri atas 15 individu sehat dan 15 pasien diabetes melitus tipe 2.
Setiap peserta menjalani dua kali sesi pengujian pada hari yang berbeda. Satu jam sebelum mengonsumsi makan siang standar, peserta diberikan minuman yang mengandung 50 gram isomaltulosa atau 50 gram sukrosa. Setelah itu, peneliti mengambil sampel darah secara berkala untuk mengukur kadar glukosa, insulin, serta beberapa hormon usus, termasuk GLP-1, glucose-dependent insulinotropic peptide (GIP), dan peptide YY (PYY).
Dengan desain ini, peneliti ingin mengetahui apakah jenis karbohidrat yang dikonsumsi sebelum makan dapat memengaruhi respons metabolik tubuh terhadap makanan berikutnya.
Pada kedua kelompok, kadar GLP-1 meningkat dengan cepat setelah makan pertama. Namun, perbedaan mulai terlihat setelah peserta mengonsumsi minuman yang mengandung isomaltulosa atau sukrosa sebelum makan berikutnya.
Pada kelompok sehat, isomaltulosa menghasilkan pelepasan GLP-1 yang lebih tinggi dibandingkan sukrosa setelah makan kedua. Analisis keseluruhan respons GLP-1 selama periode pengamatan juga menunjukkan peningkatan yang bermakna pada kelompok yang mengonsumsi isomaltulosa.
Pada peserta dengan diabetes melitus tipe 2, respons GLP-1 secara keseluruhan lebih rendah dibandingkan kelompok sehat. Meskipun kadar GLP-1 setelah konsumsi isomaltulosa cenderung lebih tinggi dibandingkan sukrosa, peningkatan keseluruhannya tidak mencapai perbedaan yang bermakna secara statistik seperti yang terlihat pada kelompok sehat.
Penelitian ini juga menemukan bahwa isomaltulosa meningkatkan pelepasan peptide YY (PYY), hormon usus yang berperan dalam memberikan sinyal kenyang setelah makan. Peningkatan PYY terjadi baik pada peserta sehat maupun pada pasien diabetes melitus tipe 2.
Selain itu, respons hormon glucose-dependent insulinotropic peptide (GIP) setelah makan juga lebih tinggi pada kelompok yang mengonsumsi isomaltulosa dibandingkan sukrosa. Sementara itu, pada peserta diabetes melitus tipe 2, pelepasan insulin berlangsung lebih lambat dibandingkan kelompok sehat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons tubuh terhadap makanan tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah karbohidrat yang dikonsumsi, tetapi juga oleh seberapa cepat karbohidrat tersebut dicerna.
Karena dicerna lebih lambat, isomaltulosa memberi kesempatan bagi nutrisi untuk mencapai bagian usus yang lebih banyak mengandung sel penghasil GLP-1 dan PYY. Akibatnya, pelepasan kedua hormon tersebut menjadi lebih tinggi dibandingkan setelah mengonsumsi sukrosa.
Meskipun penelitian ini tidak membuktikan bahwa isomaltulosa dapat mencegah atau mengobati diabetes, peningkatan pelepasan GLP-1 dan PYY menunjukkan bahwa jenis karbohidrat dapat memengaruhi respons hormonal tubuh setelah makan. Temuan ini memberikan gambaran bahwa kualitas karbohidrat sama pentingnya dengan jumlah karbohidrat yang dikonsumsi.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Jumlah peserta relatif sedikit dan hanya mengevaluasi efek jangka pendek setelah konsumsi isomaltulosa. Selain itu, peningkatan GLP-1 yang bermakna secara statistik terutama ditemukan pada kelompok sehat, sedangkan pada pasien diabetes melitus tipe 2 peningkatan tersebut belum terbukti signifikan.
Oleh karena itu, masih diperlukan penelitian dengan jumlah peserta yang lebih besar dan waktu pengamatan yang lebih panjang untuk memastikan apakah peningkatan hormon-hormon tersebut dapat memberikan manfaat klinis dalam jangka panjang.
Penelitian ini menunjukkan bahwa mengonsumsi isomaltulosa satu jam sebelum makan dapat meningkatkan pelepasan hormon GLP-1 setelah makan, terutama pada individu sehat. Isomaltulosa juga meningkatkan pelepasan hormon PYY, baik pada individu sehat maupun pada pasien diabetes melitus tipe 2.
Temuan ini memperlihatkan bahwa kecepatan pencernaan karbohidrat dapat memengaruhi respons hormonal tubuh setelah makan. Meskipun hasilnya menjanjikan, manfaat isomaltulosa terhadap kesehatan metabolik dalam jangka panjang masih perlu dikonfirmasi melalui penelitian lebih lanjut.
Referensi:
Zhang, J., Sonnenburg, D., Tricò, D., Kabisch, S., Mari, A., Theis, S., Kemper, M., Pivovarova-Ramich, O., Rohn, S., & Pfeiffer, A. F. H. (2024). Isomaltulose Enhances GLP-1 and PYY Secretion to a Mixed Meal in People With or Without Type 2 Diabetes as Compared to Saccharose. Molecular nutrition & food research, 68(4), e2300086. https://doi.org/10.1002/mnfr.202300086