Close
News And Articles

Gula Darah Malah Naik Saat Puasa? Ternyata Ini Penyebabnya & Tips Mengatasinya

Gula Darah Malah Naik Saat Puasa? Ternyata Ini Penyebabnya & Tips Mengatasinya

Ringkasan:

  • Selama berpuasa, tubuh akan berusaha untuk mempertahankan kadar gula darah tetap dalam rentang normal. Namun pada penyandang diabetes, pengaturan tersebut dapat terganggu sehingga kadar gula darah tetap dapat meningkat meskipun tidak ada asupan makanan selama beberapa jam.

  • Kebiasaan "balas dendam" dengan konsumsi makanan yang kandungan gula atau karbohidrat sederhananya tinggi dalam jumlah besar saat berbuka puasa dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah.

  • Mengatur jenis dan porsi makanan saat sahur dan berbuka, serta memantau kadar gula darah secara rutin, merupakan langkah penting untuk membantu menjaga kadar gula darah tetap terkontrol sekaligus mendukung keamanan puasa bagi penyandang diabetes.




 

Tidak sedikit orang yang bingung ketika mengetahui hasil pemeriksaan gula darah yang justru meningkat saat menjalani puasa Ramadan. Secara logika, jika tubuh tidak menerima makanan selama lebih dari 12 jam, kadar gula darah seharusnya menurun. 

Namun, kondisi tersebut tidak selalu terjadi. Sebagian orang yang rutin memeriksa gula darah secara mandiri dapat mendapati kadar gula darah tetap tinggi meskipun telah berpuasa sehari penuh. Hal ini dapat terjadi karena kondisi tertentu, misalnya diabetes yang menyebabkan tubuh tidak dapat mengatur kadar gula darah dengan baik.

Fenomena Dawn Phenomenon

Salah satu kondisi yang dapat menyebabkan gula darah meningkat pada pagi hari adalah fenomena fajar (Dawn Phenomenon).

Saat tidur, tubuh tidak memperoleh asupan energi dari makanan. Untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil, tubuh memanfaatkan cadangan energi di hati dengan memecah glikogen dan membentuk gula baru dari zat lain di dalam tubuh. Proses ini dipicu oleh beberapa hormon, seperti kortisol, hormon pertumbuhan, epinefrin, dan glukagon, yang biasanya meningkat menjelang pagi, sekitar pukul 03.00–08.00.

Pada orang sehat, kenaikan gula darah ini dapat dikendalikan oleh hormon insulin. Namun pada penderita diabetes, gangguan produksi atau kerja insulin membuat proses tersebut tidak terkontrol sehingga kadar gula darah dapat meningkat (hiperglikemia).

Selain itu, konsumsi sahur dengan porsi karbohidrat yang terlalu banyak atau makanan dengan indeks glikemik tinggi juga dapat memperparah kenaikan gula darah pada pagi hari.

Pola Makan saat Berbuka Puasa 

Selain faktor internal tubuh, lonjakan gula darah saat Ramadan juga dapat dipengaruhi oleh jenis makanan yang dikonsumsi pada saat berbuka. Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis seperti kolak, sirup, atau teh manis dalam jumlah besar setelah berpuasa seharian dapat berdampak buruk pada kesehatan. Makanan dan minuman dengan kandungan gula tinggi atau indeks glikemik tinggi dapat menyebabkan kenaikan gula darah secara cepat.

Kurang Cairan Harian

Kurangnya asupan cairan saat berpuasa juga dapat memengaruhi kadar gula darah. Jika kebutuhan cairan tidak terpenuhi, tubuh lebih rentan mengalami dehidrasi. Kondisi ini membuat darah menjadi lebih pekat sehingga angka gula darah yang diperoleh saat pemeriksaan dapat terlihat lebih tinggi.

BACA JUGA: Kasus Diabetes di Anak Muda Meningkat di Indonesia, Bagaimana Pola Hidup Sehat yang Tepat?

Cara Menjaga Gula Darah Tetap Stabil Saat Puasa

Agar gula darah tetap stabil selama Ramadan, kunci utamanya adalah memilih jenis makanan yang tepat dan mengatur pola makan. Beberapa strategi praktis yang bisa diterapkan antara lain:

  1. Tidak melewatkan sahur

Sahur membantu memberikan energi dan cadangan cairan selama berpuasa. Saat sahur, pilih makanan yang mengandung karbohidrat kompleks yang dapat melepaskan energi secara bertahap, serta protein yang membantu memberikan rasa kenyang lebih lama.

  1. Buka puasa secara bertahap

Awali berbuka dengan air putih untuk menggantikan cairan tubuh, lalu konsumsi sekitar 3 butir kurma. Hindari langsung mengonsumsi makanan atau minuman tinggi gula dalam jumlah besar agar gula darah tidak melonjak dan perut tetap terasa nyaman.

  1. Batasi gorengan dan makanan berminyak

Konsumsi makanan tinggi lemak secara berlebihan dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan dan kadar kolesterol, serta dapat memperburuk kontrol gula darah.

  1. Tetap aktif bergerak

Lakukan aktivitas fisik ringan hingga sedang, seperti berjalan santai setelah berbuka, untuk membantu otot memanfaatkan gula sebagai sumber energi sehingga kadar gula darah tetap lebih stabil.

Dengan pengaturan pola makan dan aktivitas fisik yang tepat, puasa dapat dijalani dengan lebih nyaman sekaligus membantu menjaga keseimbangan metabolisme tubuh.

Dukungan Nutrisi Agar Puasa Ramadan Lebih Optimal

Selain memperhatikan pola makan, tubuh juga membutuhkan kombinasi nutrisi yang seimbang saat sahur. Karbohidrat, protein, serat, vitamin, dan mineral membantu menyediakan energi secara bertahap serta mendukung tubuh tetap bertenaga selama berpuasa.

Untuk menjaga kestabilan gula darah saat berpuasa, minum Diabetasol Milk.  Susu ini diformulasikan sebagai nutrisi lengkap dengan indeks glikemik rendah sehingga membantu menjaga kadar gula darah tetap lebih stabil.

Diabetasol Milk juga mengandung Vita Digest yang membantu mengurangi lonjakan gula darah setelah makan sekaligus memberikan rasa kenyang lebih lama. Dengan demikian, tubuh dapat tetap bertenaga saat menjalani aktivitas selama berpuasa.

Untuk hasil yang optimal, Diabetasol Milk dapat dikonsumsi 2 kali sehari, masing-masing 4 sendok takar, yaitu saat sahur dan setelah berbuka puasa.

Beberapa kandungan nutrisi yang terdapat dalam Diabetasol Milk antara lain:

  • Isomaltulosa, karbohidrat lepas lambat dengan indeks glikemik rendah (GI 44) yang membantu menjaga gula darah tetap stabil dan memberi rasa kenyang lebih lama

  • Vitamin A, C, dan E serta zinc untuk membantu menjaga daya tahan tubuh

  • Sumber serat untuk mendukung kesehatan pencernaan

  • Protein dengan 45% whey berkualitas tinggi yang lebih mudah dicerna

  • Rendah laktosa

  • Tanpa penambahan gula pasir

  • Bebas gluten.

Dengan pengaturan pola makan yang tepat, pemantauan gula darah secara rutin, serta dukungan nutrisi yang sesuai, puasa Ramadan tetap dapat dijalani dengan nyaman sekaligus menjaga kesehatan tubuh. Puasa tetap aktif? Why not? Kan ada DIA.

 

FAQ

Mengapa gula darah tetap tinggi padahal saya sedang tidak makan?

Gula darah yang tetap tinggi saat puasa dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula atau berindeks glikemik tinggi saat berbuka, seperti kolak, sirup, atau es teh manis.

Selain itu, terdapat fenomena fajar (dawn phenomenon), yaitu peningkatan hormon pada pagi hari yang merangsang hati melepaskan gula ke dalam darah. Pada orang sehat, kenaikan ini dapat dikendalikan oleh insulin. Namun pada penderita diabetes, gangguan produksi atau kerja insulin membuat gula darah dapat meningkat. Kondisi ini dapat diperparah jika sahur mengandung karbohidrat tinggi atau makanan dengan indeks glikemik tinggi.

Kurangnya asupan cairan atau dehidrasi juga dapat membuat darah menjadi lebih pekat sehingga kadar gula darah yang terukur saat pemeriksaan dapat terlihat lebih tinggi.

Berapa jumlah kurma yang dianjurkan saat berbuka?

Dianjurkan mengonsumsi sekitar 2-3 butir kurma saat berbuka puasa. Kurma mengandung gula alami yang dapat membantu mengembalikan energi dengan cepat, serta serat yang dapat membantu memperlambat penyerapan gula sehingga kadar gula darah tidak meningkat terlalu cepat.

Apakah dehidrasi berpengaruh pada hasil cek gula darah?

Ya. Kekurangan cairan dapat membuat darah menjadi lebih pekat sehingga kadar gula darah yang terukur saat pemeriksaan dapat terlihat lebih tinggi.

Bagaimana cara menjaga kadar gula darah saat puasa? 

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membantu menjaga gula darah selama puasa antara lain tidak melewatkan sahur, membatasi konsumsi makanan dan minuman manis saat berbuka, mengurangi gorengan serta makanan berminyak, dan tetap melakukan aktivitas fisik ringan secara rutin.

Apa manfaat minum Diabetasol Milk saat sahur?

Diabetasol Milk mengandung Isomaltulosa, yaitu karbohidrat lepas lambat dengan indeks glikemik rendah (GI 44). Minum Diabetasol Milk saat sahur dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil dan memberikan rasa kenyang lebih lama, sehingga Anda tidak mudah lemas saat menjalani puasa seharian.

 

REFERENSI:

  1. Tahapary, D. L., Wafa, S., & Harbuwono, D. S. (2021). Puasa Ramadan dan Diabetes Melitus: Risiko, Manfaat dan Peluang Penelitian. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, 8(1), 1. https://doi.org/10.7454/jpdi.v8i1.576

  2. Natalia, A., & Sulistiyaningsih, S. (2018). Review Artikel: Puasa Ramadhan Dan Diabetes Melitus. Farmaka, 16(1), 331–336. https://doi.org/10.24198/jf.v16i1.17498

  3. Lessan, N., Hasan, H., & Barakat, M. T. (2012). Ramadan fasting: a study of changes in glucose profiles among patients with diabetes using continuous glucose monitoring. Diabetes care, 35(5), e37. https://doi.org/10.2337/dc11-2037

  4. O'Neal TB, Luther EE. Dawn Phenomenon. [Updated 2023 May 16]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Diakses pada 12 Maret 2026, dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430893/

  5. Atiea, J. A., Luzio, S., & Owens, D. R. (1992). The dawn phenomenon and diabetes control in treated NIDDM and IDDM patients. Diabetes research and clinical practice, 16(3), 183–190. https://doi.org/10.1016/0168-8227(92)90115-8

  6. Burge, M. R., Garcia, N., Qualls, C. R., & Schade, D. S. (2001). Differential effects of fasting and dehydration in the pathogenesis of diabetic ketoacidosis. Metabolism: clinical and experimental, 50(2), 171–177. https://doi.org/10.1053/meta.2001.20194

  7. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2025). Diakses pada 12 Maret 2026, dari https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/4058/pola-makan-tepat-selama-puasa-ramadhan

  8. Al-Farsi, M. A., & Lee, C. Y. (2008). Nutritional and functional properties of dates: a review. Critical reviews in food science and nutrition, 48(10), 877–887. https://doi.org/10.1080/10408390701724264

  9. Ibrahim, M., Davies, M. J., Ahmad, E., Annabi, F. A., Eckel, R. H., Ba-Essa, E. M., El Sayed, N. A., Hess Fischl, A., Houeiss, P., Iraqi, H., Khochtali, I., Khunti, K., Masood, S. N., Mimouni-Zerguini, S., Shera, S., Tuomilehto, J., & Umpierrez, G. E. (2020). Recommendations for management of diabetes during Ramadan: update 2020, applying the principles of the ADA/EASD consensus. BMJ open diabetes research & care, 8(1), e001248. https://doi.org/10.1136/bmjdrc-2020-001248

  10. Ayo Sehat Kementerian Kesehatan RI. (6 Maret 2026). Terapi Kurma. Diakses pada 12 Maret 2026, dari https://ayosehat.kemkes.go.id/terapi-kurma


Konsultasi Diabetes

Konsultasi Diabetes

Temukan solusi bersama ahli.