Medically Reviewed by: dr Aditya Nugroho - Health Communicator Kalbe Nutritionals
Ringkasan
Makanan manis memang dapat membantu meningkatkan mood dan menjadi camilan favorit banyak orang. Namun, konsumsi makanan manis tetap perlu diperhatikan karena dapat memicu lonjakan gula darah, terutama bila dikonsumsi berlebihan atau pada waktu yang kurang tepat.
Penelitian menunjukkan bahwa banyak makanan manis memiliki indeks glikemik (IG) tinggi sehingga gula darah dapat meningkat lebih cepat setelah dikonsumsi. Selain jenis makanan, waktu konsumsi juga dapat memengaruhi respons tubuh terhadap gula.
Beberapa waktu yang relatif lebih baik untuk mengonsumsi makanan manis antara lain setelah makan utama atau setelah aktivitas fisik karena tubuh cenderung dapat menggunakan glukosa dengan lebih baik.
Konsumsi makanan atau minuman manis dalam jumlah berlebihan menjelang malam hari sebaiknya dibatasi karena pada sebagian orang dapat meningkatkan risiko lonjakan gula darah.
Makanan manis seperti dessert, roti, cake, minuman kekinian, hingga cokelat memang sering menjadi pilihan untuk meningkatkan mood atau sebagai camilan sehari-hari. Boleh saja dikonsumsi sesekali, tetapi bila terlalu sering atau berlebihan dapat memicu lonjakan gula darah yang kurang baik bagi tubuh.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrition Journal, banyak makanan dan minuman manis memiliki indeks glikemik (IG) yang cukup tinggi sehingga kadar gula darah dapat meningkat lebih cepat setelah dikonsumsi.
Selain jenis makanannya, waktu konsumsi makanan manis juga dapat memengaruhi respons tubuh terhadap gula. Studi dari JAMA Network Open menemukan bahwa lonjakan gula darah setelah makan cenderung lebih tinggi dan bertahan lebih lama pada siang hingga malam hari dibandingkan pagi hari.
BACA JUGA: Mau “Selingkuh” dengan yang Manis-Manis? Yuk, Simak Tips & Trik Amannya
Image: magnific
Saat mengonsumsi makanan manis, tubuh akan memecah gula menjadi glukosa yang kemudian masuk ke dalam aliran darah. Jika dikonsumsi berlebihan atau pada waktu yang kurang tepat, kadar gula darah dapat meningkat dengan cepat.
Mengonsumsi makanan atau minuman manis saat perut kosong juga dapat memicu lonjakan gula darah yang lebih cepat. Setelah itu, kadar gula darah dapat turun kembali dalam beberapa jam sehingga tubuh terasa lebih cepat lapar, lemas, atau kembali ingin mengonsumsi makanan manis.
Oleh karena itu, para ahli kesehatan menyarankan konsumsi makanan manis pada waktu tertentu agar respons gula darah lebih terkontrol, antara lain:
Menurut penelitian dari jurnal Diabetes & Metabolism, waktu yang relatif lebih baik untuk mengonsumsi makanan manis adalah setelah makan utama, seperti setelah sarapan atau makan siang.
Protein, serat, dan lemak dari makanan utama dapat membantu memperlambat penyerapan gula sehingga lonjakan gula darah tidak terlalu drastis.
Selain itu, dessert yang dimakan setelah makan utama biasanya menyebabkan kenaikan gula darah yang lebih rendah dibandingkan jika dimakan saat perut kosong.
Setelah berolahraga atau melakukan aktivitas fisik juga dianggap sebagai waktu yang cukup baik untuk mengonsumsi makanan manis. Setelah beraktivitas, tubuh membutuhkan energi untuk membantu pemulihan otot dan mengganti cadangan energi yang digunakan selama beraktivitas.
Dalam kondisi ini, glukosa cenderung lebih mudah digunakan sebagai sumber energi oleh tubuh. Namun, bukan berarti harus melakukan olahraga berat terlebih dahulu. Aktivitas ringan seperti berjalan kaki selama beberapa menit setelah makan juga diketahui dapat membantu mengurangi lonjakan gula darah setelah makan yang manis-manis.
BACA JUGA: 7 Cara Menikmati Dessert Tanpa Khawatir Lonjakan Gula Darah
Sebaiknya hindari konsumsi makanan dan minuman manis dalam jumlah berlebihan pada malam hari karena tubuh cenderung memproses gula lebih lambat dibandingkan pada pagi atau siang hari.
Penelitian yang dipublikasikan dalam The American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa tubuh cenderung memproses gula lebih lambat pada malam hari. Akibatnya, gula darah setelah makan bisa meningkat lebih tinggi dibandingkan waktu lainnya.
Oleh karena itu, makan makanan atau minuman manis mendekati waktu tidur dapat memicu lonjakan gula darah yang lebih besar. Jika ingin menikmati dessert, waktu siang hari atau setelah makan utama umumnya lebih disarankan dibandingkan larut malam sebelum tidur.
Selain waktu makan, jumlah makanan manis yang dikonsumsi juga tetap perlu diperhatikan. Konsumsi makanan manis berlebihan tetap dapat meningkatkan asupan gula dan kalori harian meskipun dikonsumsi pada waktu yang dianggap lebih baik.
BACA JUGA: Apakah Orang Kurus Juga Bisa Berisiko Diabetes? Ini Fakta yang Jarang Disadari
Bagi diabetesi atau siapa pun yang ingin menjalani pola hidup sehat dengan menjaga kadar gula darah, bukan berarti harus menghindari makanan manis sepenuhnya. Hal yang lebih penting adalah mengatur pola konsumsinya dengan tepat, termasuk memperhatikan waktu makan, porsi, serta kombinasi makanan yang dikonsumsi bersama makanan manis tersebut.
Mengonsumsi makanan manis sebaiknya dilakukan setelah makan utama dan tidak saat perut kosong atau menjelang tidur karena dapat memicu lonjakan gula darah. Selain waktu konsumsi, pengaturan total asupan karbohidrat harian juga menjadi faktor penting dalam membantu menjaga kestabilan gula darah.

Sebagai bagian dari upaya menjaga pola makan yang lebih seimbang di tengah keinginan mengonsumsi camilan manis, Anda bisa konsumsi supan nutrisi pendukung Diabetasol Milk. Diabetasol Milk diformulasikan sebagai nutrisi lengkap dengan indeks glikemik rendah serta diperkaya dengan Vita Digest yang membantu mengurangi lonjakan gula darah setelah makan dan memberikan rasa kenyang lebih lama.
Diabetasol Milk dapat dikonsumsi 2 kali sehari, masing-masing sebanyak 4 sendok takar sesuai anjuran penyajian. Beberapa kandungan nutrisi di dalamnya antara lain:
Isomaltulosa, yaitu karbohidrat lepas lambat yang membantu pelepasan energi secara bertahap dan mendukung kestabilan kadar gula darah
Vitamin A, C, dan E serta zinc untuk membantu mendukung daya tahan tubuh
Sumber serat untuk mendukung kesehatan pencernaan
Protein whey berkualitas tinggi yang mudah dicerna tubuh
Rendah laktosa
Tanpa penambahan gula pasir
Bebas gluten
Dengan pengaturan waktu makan yang tepat dan pola konsumsi yang lebih seimbang, diabetesi tetap dapat menikmati makanan manis dalam batas yang wajar tanpa perlu khawatir berlebihan. Mau menikmati yang manis-manis? Why not? Kan ada DIA.
Mengonsumsi makanan manis saat perut kosong dapat membuat gula darah naik lebih cepat karena tidak ada makanan lain seperti serat, protein, atau lemak yang membantu memperlambat penyerapan glukosa. Akibatnya, tubuh lebih mudah mengalami lonjakan gula darah secara tiba-tiba setelah konsumsi gula.
Ya. Makan manis setelah makan utama cenderung lebih baik untuk gula darah karena adanya protein, lemak, dan serat yang membantu memperlambat penyerapan glukosa.
Ya. Pada malam hari, sensitivitas insulin cenderung menurun sehingga tubuh tidak seefisien siang hari dalam mengelola gula darah. Oleh karena itu, konsumsi makanan manis di malam hari dapat meningkatkan risiko lonjakan gula darah.
Boleh, asalkan dalam jumlah yang terkontrol agar tidak mengganggu keseimbangan asupan kalori harian. Setelah beraktivitas fisik, tubuh lebih siap menggunakan glukosa sebagai sumber energi untuk memulihkan energi.
Tidak. Diabetesi masih dapat mengonsumsi makanan manis dengan pengaturan yang tepat, termasuk memperhatikan waktu konsumsi, jumlah karbohidrat total, serta memilih makanan yang lebih sehat dan rendah indeks glikemik.
Referensi:
Galgani, J., Aguirre, C. & Díaz, E. Acute effect of meal glycemic index and glycemic load on blood glucose and insulin responses in humans. Nutr J 5, 22 (2006). https://doi.org/10.1186/1475-2891-5-22
Calvo-Malvar M, Lado-Baleato Ó, Ríos AC, et al. Age, Sex, BMI, Meal Timing, and Glycemic Response to Meal Glycemic Load. JAMA Netw Open. 2025;8(9):e2533193. doi:10.1001/jamanetworkopen.2025.33193
Brand-Miller, J. C., Stockmann, K., Atkinson, F., Petocz, P., & Denyer, G. (2008). Effect of the glycemic index of carbohydrates on day-long (10 h) profiles of plasma glucose, insulin, cholecystokinin and ghrelin. European Journal of Clinical Nutrition. https://doi.org/10.1038/ejcn.2008.215
Nitta, A., Imai, S., Kajiyama, S., Miyawaki, T., Matsumoto, S., Ozasa, N., Kajiyama, S., Hashimoto, Y., Tanaka, M., & Fukui, M. (2019). Impact of different timing of consuming sweet snack on postprandial glucose excursions in healthy women. Diabetes & Metabolism, 45(4), 369–374. https://doi.org/10.1016/j.diabet.2018.10.004
Reynolds, A. N., & Venn, B. J. (2018). The Timing of Activity after Eating Affects the Glycaemic Response of Healthy Adults: A Randomised Controlled Trial. Nutrients, 10(11), 1743. https://doi.org/10.3390/nu10111743
Morgan LM, Shi JW, Hampton SM, Frost G. Effect of meal timing and glycaemic index on glucose control and insulin secretion in healthy volunteers. Br J Nutr. 2012 Oct;108(7):1286-91. doi: 10.1017/S0007114511006507. Epub 2011 Dec 16. PMID: 22176632.
Respondek, F., Hilpipre, C., Chauveau, P. et al. Digestive tolerance and postprandial glycaemic and insulinaemic responses after consumption of dairy desserts containing maltitol and fructo-oligosaccharides in adults. Eur J Clin Nutr 68, 575–580 (2014). https://doi.org/10.1038/ejcn.2014.30