Hubungan antara Si Manis dan Dia
Kebanyakan orang mengira bahwa diabetesi atau yang mau menjaga kadar gula darahnya harus benar-benar menghindari makanan manis. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu. Dengan pengaturan makanan yang tepat, makanan manis masih boleh dikonsumsi, selama tahu batas dan cara yang aman untuk mengonsumsinya.
Diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah. Kondisi ini terjadi karena tubuh tidak dapat memproduksi insulin dengan cukup, tidak dapat menggunakan insulin dengan baik, atau keduanya, sehingga gula menumpuk di dalam darah.
Oleh karena itu, konsumsi makanan yang mengandung karbohidrat termasuk gula perlu lebih diperhatikan dengan lebih cermat. Namun, bukan berarti diabetesi harus pantang makan makanan manis seumur hidupnya. Berbagai panduan diet diabetes, termasuk dari American Diabetes Association, menyebutkan bahwa makanan manis masih dapat dikonsumsi oleh diabetesi dalam jumlah terbatas sebagai bagian dari pola makan sehat.
BACA JUGA: 7 Cara Menikmati Dessert Tanpa Khawatir Lonjakan Gula Darah
Ada 5 pilar untuk pengendalian penyakit diabetes, yaitu edukasi, nutrisi, aktivitas fisik, pengobatan, dan pengecekan gula darah secara mandiri. Nutrisi menjadi poin terpenting setelah edukasi untuk mengontrol kondisi ini. Anda perlu memahami bahwa pengaturan nutrisi untuk pengelolaan diabetes harus memperhatikan 5J, yaitu jadwal makan, jumlah makanan, jenis bahan makanan, jurus masak, dan jujur.
Anda perlu memahami bahwa pengaturan makan pada diabetesi bertujuan untuk mengatur dan mengontrol kadar gula darah mendekati normal, mencapai dan mempertahankan berat badan normal, mencegah terjadinya komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup.
Pengaturan makan pada diabetesi berprinsip pada anjuran makan gizi seimbang, tidak melarang untuk konsumsi makanan tertentu tapi hanya dibatasi sesuai kebutuhan harian, menu yang dikonsumsi sama saja dengan menu keluarga. Sebagai informasi tambahan, penggunaan gula dan garam sebagai bumbu di dalam masakan tidak dilarang namun perlu dikurangi.
Selain itu, Anda juga perlu memahami bagaimana makanan tersebut memengaruhi kadar gula darah. Dari penjelasan ini dapat dikatakan bahwa strategi makan yang tepat jauh lebih penting dibanding sekadar menghindari si manis.
BACA JUGA: 12 Cara Mengontrol Gula Darah dengan Efektif

Image: Freepik
Salah satu prinsip utama dalam pengaturan pola makan adalah membatasi porsi. Makanan manis sebaiknya tidak dikonsumsi setiap hari dalam jumlah banyak, melainkan dijadikan sebagai makanan penutup (dessert) atau camilan sesekali (treat). Dengan mengurangi frekuensi dan jumlah konsumsi makanan manis, kadar gula darah akan lebih mudah dikendalikan.
Selain itu, penting untuk memperhatikan total asupan karbohidrat harian. Tubuh akan mengolah semua jenis karbohidrat yang berasal dari nasi, roti, maupun makanan manis menjadi glukosa. Artinya, makanan yang tidak terasa manis sekalipun tetap dapat meningkatkan kadar gula darah jika kandungan karbohidratnya tinggi.
Sebagai panduan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merekomendasikan batas konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) per orang per hari, yaitu maksimal 50 gram atau sekitar 4 sendok makan gula, 2.000 miligram natrium yang setara dengan 5 gram atau 1 sendok teh garam, serta 67 gram lemak atau sekitar 5 sendok makan minyak goreng.
BACA JUGA: Ganti Nasi Putih Anda! Ini 5 Alternatif Karbohidrat Lepas Lambat yang Bikin Kenyang Lebih Lama
Pemilihan jenis makanan berperan besar dalam menjaga kestabilan gula darah. Makanan dengan indeks glikemik (IG) atau beban glikemik (GL) yang rendah cenderung menyebabkan kenaikan gula darah yang lebih lambat dan stabil. Contohnya adalah buah utuh, cokelat hitam, atau dessert berbahan dasar kacang dan oat.
Perbedaan nilai IG dan GL pada berbagai makanan manis menunjukkan bahwa tidak semua makanan manis memberikan dampak yang sama terhadap gula darah, sehingga pemilihan jenis makanan menjadi sangat penting.
Cara Anda mengombinasikan makanan yang dikonsumsi juga bisa memengaruhi respons gula darah. Mengonsumsi makanan manis bersama sumber protein seperti susu, yogurt, atau kacang-kacangan, serta makanan tinggi serat seperti buah, sayur, dan oat, dapat memperlambat proses penyerapan gula. Dengan demikian, kenaikan gula darah tidak terjadi secara drastis.
Pemilihan karbohidrat kompleks menjadi strategi yang dianjurkan dalam pola makan diabetesi. Karbohidrat kompleks, seperti gandum utuh, beras merah, dan kacang-kacangan, dicerna lebih lambat dibandingkan gula sederhana. Proses ini membantu menjaga kadar gula darah tetap lebih stabil dan mencegah lonjakan yang tiba-tiba setelah makan.
Bagi yang tetap ingin menikmati rasa manis, penggunaan pemanis rendah atau tanpa kalori dapat menjadi alternatif. Pemanis tanpa nutrisi, seperti sukralosa, stevia, dan aspartame dalam kadar harian yang dianjurkan tidak memiliki efek terhadap kadar gula darah. Meskipun demikian, penggunaannya tetap perlu dibatasi karena konsumsi berlebihan pemanis jenis tertentu dapat menimbulkan efek samping, seperti gangguan pencernaan.
Ada beberapa cara sederhana yang dapat Anda lakukan sehari-hari agar konsumsi makanan manis tetap lebih aman. Misalnya, mengonsumsi makanan manis setelah makan utama, bukan saat perut kosong, sehingga mengurangi untuk makan makanan berlebih.
Selain itu, minuman manis dapat diganti dengan versi tanpa gula seperti es teh tawar atau gulanya diganti dengan Nulife Sweetener sebagai alternatif pemanis tanpa kalori (zero calorie), dan dessert berbasis buah utuh dapat dipilih dibandingkan makanan dengan tambahan gula tinggi atau membuat dessert sendiri di rumah agar gulanya lebih terkontrol. Tips lainnya adalah mengganti konsumsi cokelat dengan cokelat hitam untuk tetap menikmati rasa manis coklat.

Image: https://drive.google.com/file/d/16vQcquheq5pq_cpsuUIxxoLotATgTexd/view?usp=drive_link
Diabetesi tidak harus menghindari makanan manis sepenuhnya. Kuncinya terletak pada pengaturan yang tepat, mulai dari membatasi porsi, memilih jenis makanan yang lebih sehat, mengombinasikannya dengan protein dan serat, hingga memperhatikan total asupan karbohidrat.
Pemilihan asupan pendukung juga dapat membantu menjaga kestabilan gula darah setelah makan yang manis-manis. Anda dapat melengkapi kebutuhan nutrisi harian dengan mengonsumsi Diabetasol Milk yang diformulasikan sebagai nutrisi lengkap dengan indeks glikemik rendah.
Diabetasol Milk diperkaya dengan Vita Digest yang membantu mengurangi lonjakan gula darah setelah makan, yang dapat dikonsumsi 2 kali sehari, masing-masing sebanyak 4 sendok takar sesuai anjuran penyajian.
Beberapa kandungan nutrisi yang terdapat dalam Diabetasol Milk antara lain:
Isomaltulosa, karbohidrat lepas lambat yang membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil dan memberikan rasa kenyang lebih lama. Kandungan ini menjadi bagian dari formulasi Diabetasol Milk yang memiliki indeks glikemik rendah (GI=44)
Vitamin A, C, dan E serta zinc untuk membantu menjaga daya tahan tubuh
Sumber serat untuk mendukung kesehatan pencernaan
Protein dengan whey berkualitas tinggi yang lebih mudah dicerna tubuh
Rendah laktosa
Tanpa penambahan gula pasir
Bebas gluten
Dengan pendekatan yang bijak, diabetesi tetap dapat menikmati makanan manis tanpa meningkatkan risiko komplikasi. Mau “selingkuh” dengan yang manis-manis? Why Not? Kan Ada DIA.
Referensi:
Buku Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa di Indonesia 2024 Perkumpulan Endokrinologi Indonesia
Dessert | American Diabetes Association. (2026). Diakses pada 28 April, 2026, dari https://diabetesfoodhub.org/recipes/dessert
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2024). Diakses pada 28 April, 2026, dari https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3183/pentingnya-edukasi-pada-#:~:text=Berdasarkan%20konsensus%20PERKENI%20bahwa%205,dan%20pemantauan%20glukosa%20darah%20sendiri
Chandel N. S. (2021). Carbohydrate Metabolism. Cold Spring Harbor perspectives in biology, 13(1), a040568. https://doi.org/10.1101/cshperspect.a040568
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2022). Diakses pada 28 April, 2026, dari https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1682/memilih-makanan-sumber-karbohidrat-untuk-menjaga-kadar-gula-darah
Meng, H., Matthan, N. R., Ausman, L. M., & Lichtenstein, A. H. (2017). Effect of macronutrients and fiber on postprandial glycemic responses and meal glycemic index and glycemic load value determinations. The American journal of clinical nutrition, 105(4), 842–853. https://doi.org/10.3945/ajcn.116.144162
Kossiva, L., Kakleas, K., Christodouli, F., Soldatou, A., Karanasios, S., & Karavanaki, K. (2024). Chronic Use of Artificial Sweeteners: Pros and Cons. Nutrients, 16(18), 3162. https://doi.org/10.3390/nu16183162
Huss, L. R., Laurentz, S., Fisher, J. O., McCabe, G. P., & Kranz, S. (2013). Timing of serving dessert but not portion size affects young children's intake at lunchtime. Appetite, 68, 158–163. https://doi.org/10.1016/j.appet.2013.04.013
Healthier food swaps - Food facts - Healthier Families. (2026). nhs.uk. Diakses pada 28 April, 2026, dari https://www.nhs.uk/healthier-families/food-facts/healthier-food-swaps/