Close
News And Articles

Work-Life Balance, Kunci Jaga Kesehatan Metabolisme di Tengah Kesibukan

Work-Life Balance, Kunci Jaga Kesehatan Metabolisme di Tengah Kesibukan

Medically Reviewed by: dr Aditya Nugroho - Healthcare Communicator Kalbe Nutritionals
 

Ringkasan:

  • Work-life balance yang buruk bukan hanya memicu stres mental, tetapi juga berkaitan dengan peningkatan risiko stroke sekitar 35% dan penyakit jantung iskemik sekitar 17%.

  • Bekerja lebih dari 55 jam seminggu serta kurangnya waktu tidur berdampak pada penurunan kondisi fisik serta gangguan regulasi metabolisme dalam jangka panjang.

  • Ketidakseimbangan waktu kerja juga berkaitan dengan masalah psikologis, termasuk peningkatan risiko depresi (sekitar 1,66 kali lebih tinggi) dan kecemasan (sekitar 1,74 kali lebih tinggi).

 

Kesibukan kerja sering kali membuat kita lupa waktu. Tuntutan profesional, tenggat waktu yang ketat, serta jam kerja yang panjang kini menjadi rutinitas bagi banyak pekerja.

Namun, perlu disadari bahwa ketika seseorang tidak memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance), hal ini tidak hanya memicu stres mental, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan fisik dan metabolisme tubuh dalam jangka panjang. Memiliki work-life balance yang baik berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan karyawan secara menyeluruh, yang mencakup kesehatan fisik, mental, hingga emosional.

BACA JUGA: Kasus Diabetes di Anak Muda Meningkat di Indonesia, Bagaimana Pola Hidup Sehat yang Tepat?

Work-Life Balance Buruk Ganggu Waktu Tidur dan Turunkan Kesehatan Metabolisme

Sejumlah studi menunjukkan bahwa jam kerja yang panjang memiliki dampak negatif terhadap kesehatan. Saat ini, akibat meningkatnya tekanan kehidupan modern, banyak orang cenderung mengurangi waktu tidur demi bekerja lebih lama. Sebagai gambaran, beberapa penelitian menunjukkan adanya penurunan durasi tidur dari waktu ke waktu, dari sekitar 9 jam per malam pada awal abad ke-20 menjadi sekitar 7 jam di masa ini.

Efek dari kurang tidur dan kerja berlebihan ini tidak bisa dianggap remeh. Orang yang bekerja selama 55 jam atau lebih dalam seminggu memiliki risiko sekitar 33% lebih tinggi untuk mengalami stroke dibandingkan mereka yang bekerja dengan jam kerja standar. 

Kurangnya waktu tidur juga dikaitkan dengan penyakit kardiovaskular serta peningkatan risiko penyakit jantung koroner. Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, kombinasi antara jam kerja yang panjang dan durasi tidur yang singkat dapat menurunkan kesehatan dan kebugaran secara keseluruhan.

Lebih spesifik mengenai kesehatan metabolisme, risiko gangguan ini berkaitan erat dengan durasi istirahat yang tidak optimal. Risiko masalah metabolik terbukti berhubungan dengan pola tidur yang tidak teratur, baik terlalu sedikit maupun terlalu banyak tidur.

Berbagai studi menunjukkan bahwa kurang tidur, terutama dengan durasi di bawah 6 jam per malam, berkaitan dengan penurunan sensitivitas insulin dan peningkatan resistensi insulin, yang pada akhirnya meningkatkan risiko sindrom metabolik, seperti diabetes melitus tipe 2.

Selain durasi yang singkat, waktu tidur yang terlalu lama (di atas 10 jam) maupun gangguan ritme sirkadian juga terbukti dapat mengganggu regulasi insulin dan metabolisme glukosa darah.

Bagi individu yang bekerja dengan jam kerja tidak standar, studi juga menunjukkan adanya kaitan antara kerja shift dengan peningkatan risiko sindrom metabolik.

BACA JUGA: 10 Tanda Tubuh Kelebihan Gula yang Wajib Diwaspadai

Pengaruhi Psikologis dan Kesehatan Fisik Pekerja

Kesehatan mental yang terganggu akibat beban pekerjaan pada akhirnya juga dapat berdampak pada kondisi fisik tubuh. Pekerja dengan keseimbangan waktu yang buruk lebih rentan mengalami penurunan kepuasan kerja serta masalah kesehatan mental seperti kelelahan kerja (burnout) dan depresi.

Salah satu dampak dari burnout adalah meningkatnya risiko penyakit metabolik kronis, terutama diabetes melitus tipe 2. Berdasarkan penelitian, tekanan psikososial di tempat kerja berkaitan dengan munculnya sindrom metabolik dengan angka kejadian sekitar 22,1% pada pekerja, dengan sekitar 6,9% di antaranya mengalami diabetes.

Hal ini diperkuat oleh studi populasi lain yang menunjukkan bahwa akumulasi stres, terutama yang berkaitan dengan pekerjaan dan kondisi finansial, secara signifikan meningkatkan risiko sindrom metabolik.

Stres yang berkepanjangan dapat memicu resistensi insulin, obesitas sentral, serta peningkatan kadar trigliserida. Stres akibat beban pekerjaan juga dapat mengganggu keseimbangan hormon yang berperan dalam regulasi glukosa darah puasa, sehingga individu dengan tekanan kerja yang tinggi secara konsisten menjadi lebih rentan terhadap risiko diabetes dan komplikasi metabolik lainnya di masa depan.

Selain itu, pada individu yang bekerja lebih dari 55 jam per minggu, terdapat peningkatan risiko depresi sekitar 1,66 kali lebih tinggi serta risiko kecemasan sekitar 1,74 kali lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang bekerja dengan jam kerja standar.

Sebaliknya, individu dengan work-life balance yang lebih baik menunjukkan tingkat kesejahteraan psikososial yang lebih tinggi. Kondisi ini umumnya berkaitan dengan jam kerja yang lebih wajar, otonomi kerja yang lebih besar, serta dukungan yang memadai di lingkungan kerja. Oleh karena itu, pengaturan jam kerja yang lebih seimbang serta waktu istirahat yang cukup penting untuk mendukung kesehatan mental dan menurunkan risiko gangguan psikologis.

Nutrisi Lengkap untuk Metabolisme Tetap Terjaga

banner Diabetasol

Selain menjaga keseimbangan antara waktu kerja dan istirahat, menjaga asupan nutrisi juga merupakan langkah pendukung untuk menjaga metabolisme tetap sehat. Bagi pekerja sibuk yang kerap tidak memiliki waktu untuk menyusun menu makan sehat, Anda dapat mempertimbangkan solusi nutrisi lengkap yang praktis seperti Diabetasol Milk.

Diabetasol Milk diformulasikan untuk mendukung kebutuhan nutrisi harian dan membantu menjaga keseimbangan metabolisme. Dengan kandungan isomaltulosa (karbohidrat lepas lambat), sumber serat, serta whey protein berkualitas tinggi, Diabetasol Milk dapat membantu mengurangi lonjakan gula darah setelah makan sekaligus memberikan rasa kenyang lebih lama.

Untuk menjaga energi tetap stabil, Diabetasol Milk dapat dikonsumsi 2 kali sehari dengan takaran 4 sendok takar. Anda bisa menikmatinya secara langsung atau mengolahnya menjadi smoothies bernutrisi dengan campuran buah, oatmeal, atau chia seed sebagai variasi sarapan yang lebih mengenyangkan di tengah padatnya jadwal kerja.

Pada akhirnya, menjaga work-life balance bukan hanya tentang membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga kesehatan dan kualitas hidup secara keseluruhan. 

Dengan pengaturan jam kerja yang lebih proporsional, waktu istirahat yang cukup, serta dukungan asupan nutrisi yang tepat, Anda dapat tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan. Jadi, mau tetap aktif seharian? Why Not? Kan Ada DIA.

 

FAQ

Mengapa jam kerja yang terlalu panjang berbahaya bagi kesehatan jantung?

Bekerja lebih dari 55 jam per minggu sering berkaitan dengan kurangnya waktu tidur. Kondisi ini berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, penyakit jantung koroner, hingga risiko stroke yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang bekerja dengan jam kerja standar.

Bagaimana pola tidur mempengaruhi kesehatan metabolisme pekerja? 

Pola tidur yang tidak teratur, baik terlalu sedikit maupun terlalu banyak, dapat mengganggu metabolisme tubuh. Pekerja dengan jam kerja tidak standar atau sistem shift work memiliki risiko lebih tinggi terhadap sindrom metabolik.

Apa saja faktor utama yang merusak keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance)? 

Terdapat tiga faktor utama di tempat kerja yang sering memengaruhi work-life balance, yaitu jam kerja yang terlalu panjang, kurangnya fleksibilitas dalam pengaturan kerja, serta tekanan akibat beban tugas yang terlalu tinggi.

Mengapa Diabetasol Milk penting untuk dikonsumsi di tengah kesibukan? 

Diabetasol Milk diformulasikan dengan isomaltulosa, yaitu karbohidrat lepas lambat dengan indeks glikemik rendah (GI = 44). Kandungan ini membantu menjaga kenaikan gula darah lebih stabil serta menyediakan energi yang dilepaskan secara bertahap. Dengan nutrisi penting di dalamnya, produk ini dapat membantu memenuhi kebutuhan harian dan mendukung aktivitas, termasuk dalam menjalani work-life balance yang lebih optimal.

 

Referensi:

  • Hariri, N. I. M., Othman, W. N. W., Anuar, S. B. A., Lin, T. Y., & Zainudin, Z. N. (2024). Effect of Work-Life Balance on Employees’ Well-Being. Open Journal of Social Sciences, 12(12), 705–718. https://doi.org/10.4236/jss.2024.1212044

  • Rogers AE. The Effects of Fatigue and Sleepiness on Nurse Performance and Patient Safety. In: Hughes RG, editor. Patient Safety and Quality: An Evidence-Based Handbook for Nurses. Rockville (MD): Agency for Healthcare Research and Quality (US); 2008 Apr. Chapter 40. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK2645/

  • Kivimäki, M., Jokela, M., Nyberg, S. T., Singh-Manoux, A., Fransson, E. I., Alfredsson, L., Bjorner, J. B., Borritz, M., Burr, H., Casini, A., Clays, E., De Bacquer, D., Dragano, N., Erbel, R., Geuskens, G. A., Hamer, M., Hooftman, W. E., Houtman, I. L., Jöckel, K.-H., & Kittel, F. (2015). Long working hours and risk of coronary heart disease and stroke: a systematic review and meta-analysis of published and unpublished data for 603 838 individuals. The Lancet, 386(10005), 1739–1746. https://doi.org/10.1016/s0140-6736(15)60295-1

  • von Bonsdorff, M. B., Strandberg, A., von Bonsdorff, M., Törmäkangas, T., Pitkälä, K. H., & Strandberg, T. E. (2016). Working hours and sleep duration in midlife as determinants of health-related quality of life among older businessmen. Age and Ageing, 46(1). https://doi.org/10.1093/ageing/afw178

  • Pinheiro, M. C., Costa, H. E., Mariana, M., & Cairrao, E. (2025). Sleep Deprivation and Its Impact on Insulin Resistance. Endocrines, 6(4), 49. https://doi.org/10.3390/endocrines6040049

  • Jang, J. H., Kim, W., Moon, J. S., Roh, E., Kang, J. G., Lee, S. J., Ihm, S. H., & Huh, J. H. (2023). Association between Sleep Duration and Incident Diabetes Mellitus in Healthy Subjects: A 14-Year Longitudinal Cohort Study. Journal of clinical medicine, 12(8), 2899. https://doi.org/10.3390/jcm12082899

  • Prissa, S. J., & Fikawati, S. (2024). Shift Work and Metabolic Syndrome: Systematic Review. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI), 7(6), 1423–1431. https://doi.org/10.56338/mppki.v7i6.5329

  • Eftekhari, S., Alipour, F., Aminian, O., & Saraei, M. (2021). The association between job stress and metabolic syndrome among medical university staff. Journal of diabetes and metabolic disorders, 20(1), 321–327. https://doi.org/10.1007/s40200-021-00748-9

  • Pyykkönen, A. J., Räikkönen, K., Tuomi, T., Eriksson, J. G., Groop, L., & Isomaa, B. (2010). Stressful life events and the metabolic syndrome: the prevalence, prediction and prevention of diabetes (PPP)-Botnia Study. Diabetes care, 33(2), 378–384. https://doi.org/10.2337/dc09-1027

  • Virtanen, M., Ferrie, J. E., Singh-Manoux, A., Shipley, M. J., Stansfeld, S. A., Marmot, M. G., Ahola, K., Vahtera, J., & Kivimäki, M. (2011). Long working hours and symptoms of anxiety and depression: a 5-year follow-up of the Whitehall II study. Psychological Medicine, 41(12), 2485–2494. https://doi.org/10.1017/s0033291711000171


Konsultasi Diabetes

Konsultasi Diabetes

Temukan solusi bersama ahli.